Laman

Rabu, 30 Maret 2016

Mengenal Imam Bukhary, Muhaddis No. 1.

Mengenal sekilas biografi Muhaddis No.1
Abu 'Abdillah Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah. itulah nama lengkap beliau Sang Muhaddits terkemuka. beliau adalah ulama hadis yang sangat masyhur. Lahir di Bukhara, suatu kota di Uzbekistan, wilayah Uni Soviet yang merupakan jalan simpang antara Rusia, Persi, Hindi dan Tiongkok (Cina). Beliau lebih terkenal dengan nama Bukhary atau Putra dari daerah bukhara. Beliau dilahirkan setelah shalat jum'at pada tanggal 13 Syawal 194 H (810 M). seorang muhaddits yang sangat jarang tandingannya ini sangat wara', sedikit makan, banyak membaca al-Quran, baik siang maupun malam serta gemar berbuat kebajukan kepada murid-muridnya. Nenek moyang beliau yang bernama Mughirah bin Bardizbah konon adalah seorang majusi ayng kemudian menyatakan keislamannya di hadapan Walikota yang bernama al-Yaman bin Ahnas al-Ju'fy yang karena itulah beliau juga dinasabkan dengan nama al-Ju'fy atas dasar wala al-Islam.
            Sejak berumur 10 tahun, beliau sudah mempunyai perhatian dalam ilmu-ilmu hadis, bahkan sudah mempunyai hafalan hadis yang banyak. Beliau merantau ke negri syam, mesir, jazirah arab sampai dua kali, ke basrah sampai empat kali kemudian bermukim di hijaz selama 6 tahun lalu pergi ke Baghdad bersama para ulama hadis lainnya sampai berkali-kali. Pada saat beliau pergi ke Baghdad beliau diuji oleh ulama-ulama disana. 10 ulama hadis mengujinya dengan 10 hadis yang sudah ditakar sanad dan matannya yang dihadiri banyak ulama disana termasuk ulama dari daerah khurasan. Satu demi satu ulama hadis mengujinya dengan 10 hadis yang telah disiapkan itu. Dari hadis ujian ke 1 hingga ke 10 beliau hanya menjawab tidak tau, namun pada akhirnya beliau menjelaskan hadis dengan matan yang telah ditukar sanadnya tersebut dan memperbaiki semua hadis itu dengan sangat teliti. Tak ayal para ulama disana yang hadir tercengang dan terpaksa harus mengakui kepandaiannya, ketelitiannya dan hafalannya mengenai ilmu hadis.
            Beliau berguru hadis kepada banyak ulama yang diantarnya adalah Maky bin Ibrahim, Abdullah bin Usman al-Mawarzy, Abdullah bin Musa al-Abasy dan masih banyak lagi. Beliau juga memiliki banyak murid yang belajar hadis kepadanya antaranya adalah Imama Muslim, Abu Zur’ah, Turmudzi, Imam Nasa’I dan masih banyak lagi. Karya beliau sangat banyak yang nanti akan saya bahas kembali tentang tarikh lengkap biografi Imam Bukhary. Karya yang fenomenal dan menjadi kitab hadis no.1 dengan keakuratannya adalah al-Jami’ as-Sahih yang kita kenal dengan sebutan Kitab Sahih Bukhary yang bias juga pembaca download cetakan kitab aslinya. Beliau wafat hari ahad bulan rajab tahun 261 H (875 M dan dikebumikan hari senin di naisabur.

Sumber : Drs. Fatchur Rahman, Ikhtisar Mustalahul Hadits, Al-Ma’arif, Bandung, Cet-1, 1974.





Sabtu, 26 Maret 2016

Mengenal Kitab Hadis yang disusun berdasarkan bab (Mushannaf)

Mushannaf, Kitab Hadis yang disusun berdasarkan bab
(oleh : Ibnu Toya)
Dalam kitab-kitab ulama terdahulu, jenis kitab hadis seperti ini disebut al-ashnaf atau lebih dikenal dengan kitab hadis Mushannaf. Menurut bahasa, Mushannaf berasal dari kata  صَنَفَ dan memiliki bentuk isim اَلصِّنْفُ yang berarti jenis, warna atau macam. Dan juga memiliki bentuk isim التَّصْنِيْفُ yang berarti menyusun, membeda-bedakan, membedakan satu hal dengan hal lainnya. Menurut istilah, Mushannaf berarti kitab hadis yang disusun berdasarkan bab-bab fikih tetapi mencangkup hadis Mauqûf, hadis Maqthû‘, disatukan dengan hadis Marfû‘.
Kitab Mushannaf ‘Abdurrazzâq bukanlah kitab hadis pertama dengan bentuk Mushannaf. Jauh sebelum ‘Abdurrazzâq, para ulama sudah menyusun kitab jenis ini. Adapun kitab-kitab tersebut yang dinyatakan Imam Muẖammad al-ẖasan dalam kitabnya adalah sebagai berikut :
a.   Râbi‘ bin Shâbih (w. 160 H). Meski kredibilitasnya dinyatakan dha’îf, ia adalah ulama pertama yang membuat kitab berjenis Mushannaf dan pengklasifikasian bab di dalamnya.. Beliau mengarang kitabnya tersebut di Basrah.
b.      Sa‘îd bin ‘Arubah (w. 157 H). Ulama yang mengarang kitab jenis yang sama di Basrah dan memiliki kredibilitas yang baik.
c.   Ma‘mar bin Râsyid (w. 153 H). Ulama asal Basrah yang kemudian pindah ke Yaman menetap dan terkenal disana. Ia adalah guru ‘Abdurrazzâq yang paling banyak meriwayatkan hadis padanya. Ia adalah ulama pertama yang menulis kitab jenis ini di kota Yaman dan memiliki kredibilitas yang sangat baik.
d.   Ibnu Juraij (w. 150 H). Ahli fikih di kota Mekah yang sekaligus guru ‘Abdurrazzâq ini sudah tentu memiliki kredibilitas yang tidak diragukan. Ia memilki beberapa kitab Mushannaf yang dikarang di Mekah.
e.      Sufyân ats-Tsaurî (w. 161 H). Ulama ini dijuluki Amîrul Mu’minîn fil hadîs. Beliau menulis kitab jenis tersebut di Kufah.
f.       ẖammâd bin Salamah (w. 167 H). Beliau menulis kitab jenis ini di Basrah.
g.      Sufyân bin ‘Uyainah (w. 198 H). Menulis jenis kitab tersebut di Mekah.
h.   Walîd bin Muslim bin Syâm (w. 194 H). Ulama yang menulis kitab jenis tersebut dan terkenal di Syam. Ia juga memiliki kredibilitas yang baik dan dikabarkan menulis 70 kitab jenis ini.
i.       Jarîr ibnu ‘Abdil ẖamîd (w. 188 H). Ulama asal Kufah yang menuntut ilmu juga disana. Ia kemudian menulis jenis kitab tersebut dan menetap di Ray.
j.       ‘Abdullah ibnu al-Mubârak (w. 181 H). Ia banyak mengarang kitab jenis ini di Marwa dan Khurasan. Beliau memilki kredibilitas yang baik dalam bidang ilmu hadis dan fikih.
k.     Husyaim bin Basyîr (w. 183 H). Ia memilki sedikit masalah dalam kredibilitasnya sebagai ulama. Ia adalah pendatang dari Baghdag dan menulis kitab di Wasith.
l.    Selanjutnya ditulis oleh para ulama Kufah yaitu Ibn Abi Zaidah, Ibn Fudhail dan Wâki‘ sekitar awal-awal abad ke-3 H.
m. Kemudian oleh Ulama Yaman yaitu ‘Abdurrazzâq ash-Shan‘ânî (w. 211 H) dengan karyanya yang sudah dikenal yaitu Mushannaf ‘Abdurrazzâq.
n.     Abu Bakr Ibnu Abi Syaibah (w. 235 H). Ulama yang menulis kitab dalam berbagai bidang ilmu. Dalam hadis beliau menulis Mushannaf Ibnu Abi Syaibah.
Pada masa-masa awal sekitar abad ke-2, karya-karya para ulama tersebut masih disebut secara umum dan belum dibukukan secara resmi. Belum ada perbedaan antara Sunan dan Mushannaf. Pada saat itu, setiap metode penyusunan yang mengklasifikasi bab disebut al-Ashnâf atau Mushannaf.
Sejarah kitab Mushannaf yang memilki nama resmi adalah :
a.       Mushannaf ẖammâd bin Salamah (w. 167 H).
b.      Mushannaf Wâkî’ bin al-Jarh (w. 197 H).
c.       Mushannaf Sufyân bin ‘Uyainah (w. 198 H).
d.      Mushannaf Abdurrazzaq bin Hammâm (w. 211 H).
e.       Mushannaf Sulaimân bin Daud al-‘Itkî (w. 234 H).
f.       Mushannaf Abu Bakr bin Abi Syaibah (w. 235 H).
g.      Mushannaf Baqî bin Mukhallad al-Qurthûbî (w. 276).

Daftar Pustaka
ẖasan bin Abdurraẖman ar-Ramharamizî, al-Muẖaddits al-Fâshil Baina ar-Râwî wa al-Wâ’î, (Bairut : Dar al-Fikr, 1771), cet. Ke-1.
Rahman, Fathur, Ikhtisar Mustalahul Hadits, Bandung, PT. Al-Ma’arif. Cet. 20
Aẖmad Warson Munawir, Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya : Pustaka Progressif, 1997), cet. Ke-14.
M. M. Azami, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, (Alih Bahasa Ali Mustafa Yaqub, Jakarta : Pustaka Firdaus, 2009), cet. Ke-4.
Fathullah, Ahmad Lutfi, Metode Interaktif Hadits dan Ilmu Hadits, DVD Software.
Ibnu Mandzur, Lisân al-‘Arab, (Kairo : Dar al-Ma’ârif).
Ibrâhîm Su’ûd Ajjîn, Manhaj al-ẖâfidz ‘Abdurrazzâq ash-Shan‘ânî fî Mushannifihi, (Kairo : al-Maktabah al-Islamiyah, 2008), cet. ke-1.

Kamis, 24 Maret 2016

Download Kitab ٍMuwaththa' Malik PDF Gratis

Download kitab Muwaththa' Malik gratis dengan format PDF.


Semoga bermanfaat.
Tolong beritahu saya bila ada link yang mati/gagal.


Rabu, 23 Maret 2016

Download Kitab ٍMusnad Ahmad PDF Gratis

Download kitab Musnad Ahmad gratis dengan format PDF.

Juz 1-Juz 2-Juz 3-Juz 4-Juz 5-Juz 6-Juz 7-Juz 8-Juz 9-Juz 10-Juz 11-Juz 12-Juz 13-Juz 14-Juz 15-Juz 16-Cover
Semoga bermanfaat.
Tolong beritahu saya bila ada link yang mati/gagal.


Download Kitab ٍSunan ad-Darimi PDF Gratis

Download kitab Sunan ad-Darimi (al-Musnad al-Jami) gratis dengan format PDF.

Semoga bermanfaat.
Tolong beritahu saya bila ada link yang mati/gagal.

Download Kitab ٍSahih Muslim PDF Gratis

Download kitab Sahih Muslim gratis dengan format PDF.


Semoga bermanfaat.
Tolong beritahu saya bila ada link yang mati/gagal.

Download Kitab ٍSunan Ibnu Majah PDF Gratis

Download kitab Sunan Ibnu Majah gratis dengan format PDF.

Semoga bermanfaat.
Tolong beritahu saya bila ada link yang mati/gagal.

Download Kitab ٍSunan an-Nasa'i PDF Gratis

Download kitab Sunan an-Nasa'i gratis dengan format PDF.

Semoga bermanfaat.
Tolong beritahu saya bila ada link yang mati/gagal.

Download Kitab ٍSunan Turmudzi PDF Gratis

Download kitab Sunan Turmudzi gratis dengan format PDF.

Download Kitab.
Semoga bermanfaat.
Tolong beritahu saya bila ada link yang mati/gagal.

Download Kitab ٍSahih Bukhari PDF Gratis

Download kitab Sahih Bukhari gratis dengan format PDF.

Semoga bermanfaat.
Tolong beritahu saya bila ada link yang mati/gagal.

Download Kitab ٍSunan Abu Daud PDF Gratis

Download kitab Sunan Abu Daud gratis dengan format PDF.
Semoga bermanfaat.
Tolong beritahu saya bila ada link yang mati/gagal.



Selasa, 22 Maret 2016

Kitab Mushannaf Ibnu abi syaibah

Mushannaf Ibnu abi syaibah
(oleh : Ibnu Toya)

Karakteristik penulisan kitab

·         Kitab ini disusun dengan menggunakan metode abwab fiqh.
·         Penulisan wala kitab ini dimulai dengan kitab thaharah dan diakhiri dengan kitab al-Jumal yang menghimpun kurang lebih empat puluh satu kitab atau pembahasan (versi Maktabah Syamilah).
·         Mencantumkan juga hadits mauquf dan maqthu.

Biografi Imam Waki’ bin al-Jarah
Nama lengkap beliau adalah Abu Tsufyan Waki bin al-Jarrah bin Muleih bin ‘Adi bin farsi bun Tsufyan bin al-Harits bin Amr ibnu Ubeid ar-Ruasiy. Belia hidup Selama 66 tahun dari tahun 129 – 197 H.
Beliau adalah seorang penghafal hadits yang hebat dan sangat terpercaya di irak. Beliau lahir di Kuffah.
Para Ulama yang memberikan pujian kepada beliau atas kehebatannya dalam bidang hadit antaranya adalah Ibnu al-Madiny, Abu Nu’eim dan Ibnu Hanbal. Beliau wafata pada Tahun 197 H setelah pulang menunaikan haji.


Ringkasan Hadits dan Ulumul Hadits

Ringkasan Hadits dan Ulumul Hadits
(Oleh : Ibnu Toya)


     A. Definisi Hadits, Khabar Dan Atsar

الْحدِيْثُ مَا جَاءَ عَنِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ، سَوَاءً كَانَ قًوْلاًَ أوْ فِعْلاًَ أوْ تَقْرِيْرًَا أوْ صِفَةًً
Hadits, adalah segala sesuatu yang datang dari Nabi saw, baik yang berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, ataupun sifat
الْخَبَرُ مَا جَاءَ عَنْهُ صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَسلَّمَ و عَنْ غَيْرُِهُ مِنْ أصْحَابِهِ أوْ التَابِعِيْنَ أوْ تَابِعِ التَّابِعِيْن َأو مَنْ دُوْنَهُمْ
Khabar, adalah segala sesuatu yang datang dari Nabi saw ataupun yang lainnya, yaitu shahabat beliau, tabi’in, tabi’ tabi’in, atau generasi setelahnya.
الأََثَرُ مَا جَاءَ عَنْ غَيْرِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مِنْ الصَحَابَةِ أوْ التَّابِعِيْن أوْ تَابِعِ التَّابِعِيْنَ أوْ مِنْ دُوْنَهُمْ
Atsar, adalah segala sesuatu yang datang selain dari Nabi saw, yaitu dari shahabat, tabi’in, atau generasi setelah mereka.

     B.    Ulumul Hadits

عِلْمُ الْحَدِيْثِ هُوَ مَعْرَِفَةُ الْقَوَاعِدَ الَّتِيْ يَتَوَصَّلُ بِهَا إِلَى مَعْرِفَةِ الرَّاوِي و الْمَرْوَي
Ilmu Hadits adalah pengetahuan mengenai kaidah-kaidah yang menghantar-kan kepada pengetahuan tentang rawi (periwayat) dan marwi (materi yang diriwayatkan).

هُوَ عِلْمُ بِقَوَانِيْنَ يَعْرَفُ بِهَا أحْوَالُ السَّنَدِ وَ الْمَتْن
Ilmu Hadis adalah ilmu tentang kaidah-kaidah untuk mengetahui kondisi sanad dan matan.

Contoh :

Al-Bukhari meriwayatkan hadits berikut, di dalam kitabnya yang bernama ash-Shahih, Bab Kayfa kana bad’ al-wahyi ila Rasulillah saw, jilid 1, hal. 5

حدثَنا الْحميدِي عبد اللَّهِ بن الزبيرِ، َقال: حدَثنا سفْيان، َقال: حدثَنا يحيى بن سعِيدٍ الَْأنصارِي، َقال: َأخبرنِيم محمد بن إِبراهِيم التيمِي َأنه سمِع علَْقمَة بن وقَّاصٍ اللَّيثِي يُقول سمِعت عمر بن اْلخطَّابِ رضِي اللَّه عنهم عَلى الْمِنبرِ َقاَل سمِعت رسول اللَّهِ صلَّى اللَّه عَليهِ و سلَّم يُقول:[1]
 إنما الأعمال بالنية. وإنما لامرئ ما نوى. فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله، فهجرته إلى الله ورسوله. ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو أمرأة يتزوجها، فهجرته إلى ما هاجر إليه[2]









[1] Yang dinamakan Sanad pada hadis di atas adalah yang diberitanda underline (garis bawah).
[2] Sedangkan Matan pada hadits di atas adalah yang diberi tanda bold (tebal).

Senin, 21 Maret 2016

Sejarah dan Metode penulisan hadits

Sejarah dan Metode
penulisan hadits
(oleh : Ibnu Toya)

       A. Sejarah penulisan hadits
1.      Pada masa rasulullah
Al-Zahrani dalam bukunya "Tadwin al-Sunnah al-Nabawiyah" menyatakan bahwa penulisan hadits sebenarnya telah di mulai sejak masa Rasulullah. Dengan adanya hadits-hadits yang mengandung perintah untuk menulis, yang berarti penulisan hadits sesungguhnya tersebut dimulai sejak masa Rasulullah, sekalipun yang diperioritaskan adalah wahyu yang turun.
Sementara itu, hadits-hadits yang menyatakan rukshah, seperti pendapat di atas, juga didukung beberapa ungkapan para sahabat itu sendiri. Salah satunya adalah Abu Hurairah, yang menyatakan bahwa hafalannya tidak ada yang melindungi kecuali ‘Abdullah ibn ‘Amr, karena ia tidak menulis sedangkan Ibnu ‘Amr menulis hadits.
Bukti lain yang serupa adalah bentuk shahifah. Misalnya ada shahifah Abu Bakr, Shahifah ‘Ali ibn Abi Tahlib, dan shahifah ‘Abdullah ibn ‘Amr ibn ‘Ash, semua itu merupakan bukti yang ada pada diri yang telah banyak membukukan hadits pada masa Rasulullah.
2.      Pada masa shahabat dan tabi'in
Akram Dhiya' al-‘Umari sebagai penulis buku Buhuts fi Tarikh al-Sunnah al-Nabawiyah, menyadari bahwa terjadinya sebuah kontradiksi yang sangat keras di kalangan sahabat itu diakibatkan pandangan yang masih bersifat generik. Sebagian yang tidak setuju menulis hadits menolaknya mentah-mentah dan bahkan sampai ada yang membakarnya. Ada sebagian yang lain memahami larangan itu sudah di nasakh, ada pula yang menggunakan dua pendapat dalam waktu berbeda; kadang melarangnya dan kadang membolehkannya.
Kalau begitu, sesungguhnya telah ada sebuah perhatian yang sangat besar ditunjukkan para sahabat kepada hadits tersebut. Dan ini merupakan dasar bagi penulisan hadits serta lebih-lebih untuk menjaga kemurnian dan penyebarannya kepada umat Islam. Ada beberapa pertimbangan yang perlu dilakukan para sahabat dalam menjaga kelestarian al-Sunnah al-Nabawiyah, sebagai berikut;
a.       Menganjurkan untuk menghafal dengan disertai mengkritisi teks-teks hadits secara cermat dan tegas. Begitu pula mereka menyuruh para santrinya manulis teks-teks supaya mudah dalam menghafalnya. Setelah dirasa hafalnnya sudah mantap, tulisan tersebut dihapus agar tidak tergantung kepada tulisan dan mengurangi minat menghafal.
b.      Saling mengirim tulisan hadits di antara mereka. Sebagaimana yang di riwayatkan Imam Muslim, yang menyatakan bahwa Jabir ibn Samurah menuliskan sebagian hadits Rasulullah, kemudian di kirimkan kepada ‘Amr ibn Said Abi Waqash karena permintaannya.
c.       Membukukan hadits dalam bentuk shuhuf dan melalui bentuk shuhuf inilah akhirnya kegiatan penulisan dan pengumpulan hadits pada masa-masa berikutnya.

Adapun hadits pada masa tabi'in, tidak jauh berbeda dengan hadits di masa sahabat. Di sana juga masih ada perbedaan mengenai hukum menulis hadits Rasulullah. Meskipun demikian, pada masa ini lahir beberapa ulama dengan perhatian yang sangat besar terhadap penulisan hadits. Tidak hanya itu, mereka menjaganya dengan bentuk shahifah. Ulama yang terlibat dalam penulisan ini, seperti Abi al-Zubair Muhammad ibn Muslim ibn Tadrus al-Asadi, yang menulis beberapa hadits yang diriwayatkan oleh Jabir ibn ‘Abdillah dan dari yang lainnya.
Pada masa tabi'in, kegiatan tulis-menulis semakin berkembang pesat. Mereka ramai-ramai menyerbu halaqah al-‘Ilm, bahkan di antara mereka ada yang sangat memperhatikan terhadap penulisan ilmu yang mereka terima. Dengan semangat yang tinggi, mereka menyadari bahwa menulis ilmu merupakan kebutuhan, dan kondisi demikian telah membentuk sikap mereka untuk menulis dalam setiap halaqah al-‘Ilm.
Menyadari akan pentingnya penulisan ‘ilm (hadits) mereka berusaha untuk menjaganya. Sehingga berkembangnya penulisan ini juga atas pertimbangan banyak hal, misalnya 1) meluasnya periwayatan, disertai dengan sanad yang panjang, yang mencantumkan nama-nama perawi, julukan dan nasabnya, 2) para sahabat dan tabi'in tua yang terkenal kuat hafalannya, banyak yang telah meninggal dunia, tentu akan semakin besar kemungkinan hadits yang hilang, kalau tidak segera dibukukan, 3) kekuatan hafalan yang dimiliki oleh para ummat Islam pada waktu itu semakin lemah, karena makin banyak ilmu pengetahuan yang membutuhkan pemikiran juga, dan 4) munculnya gerakan-gerakan bid'ah, dan banyaknya orang-orang yang membuat hadits palsu.
3.      Pada masa umar ibn ‘abd aziz
Setelah melalui beberapa periode, Umar ibn ‘Abd Aziz termasuk orang yang mempunyai hasrat besar terhadap pembukuan hadits. Menurut sejarahnya, semula yang ingin membukukan adalah ayahnya (‘Abd Aziz ibn Marwan), ketika menjabat sebagai gubernur di Mesir. Pada waktu itu, ia menulis permohonan kepada Kathir ibn Murrah al-Khadlrami, seorang tabi'in yang pernah bertemu dengan 70 ahli badr, untuk menulis apa-apa yang pernah didengar dari hadits-hadits Rasulullah. Namun hasil akhirnya belum dapat diketahui secara jelas.
Akhirnya, Umar ibn ‘Abd Aziz meneruskan usaha tersebut, dan segera menulis surat kepada Abu Bakr ibn Hazm, yang intinya meminta kepadanya untuk menulis hadits-hadits Rasulullah dari Umrah binti ‘Abd al-Rahman al-Anshariyah dan Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakr. Selain itu, Umar juga meminta kepada ulama yang ada diseluruh wilayah Islam. Sebelum selesai penulisan, Abu Bakr ibn Hazm meninggal dunia. Setelah itu, usaha yang maksimal baru dikerjakan oleh Imam Muhammad ibn Syihab al-Zuhri. Ia di tugasi Umar untuk mengumpulkan seluruh hadits-hadits Rasulullah, yang kemudian dijadikan sebuah buku. Al-Zuhri termasuk orang pertama kali yang dapat membukukan hadits secara resmi dan menyeluruh.
4.      Pada masa abad kedua dan ketiga hijrah
Pada abad kedua hijrah terdapat dua generasi, yaitu generasi shighar al-tabi'in dan generasi atba'u al-tabi'in. Generasi pertama, mereka yang hidup sampai setelah tahun 140 hijrah. Sedangkan generasi kedua, mereka yang hidup setelah periode sahabat dan tabi'in, dalam tingkatan periwayatan hadits dan penyebaran agama Islam kepada umat, generasi ini mempunyai peranan sangat besar dalam menghadapi ahl al-bida' wa al-ahwa', dan berusaha sekuat tenaga dalam menghalau segala bentuk kebohongan hadits (al-wadl'u fi al-hadits) yang dipelopori oleh kelompok al-Zanadiyah. Umumnya, mereka sangat berhati-hati ketika melakukan seleksi hadits untuk dibukukan dan sekaligus disusunnya dalam bentuk susunan bab. Selain itu, keberhasilan mereka adalah menyusu ilm al-rijal, yang ditandai dengan adanya buku-buku yang ditulis oleh al-Laits ibn Sa'ad, Ibn al-Mubarak, Dlamrah ibn Rabi'ah dan lain-lain.
Selain itu, abad kedua juga terkenal dengan banyaknya ulama yang muncul. Mereka sangat faham tetang kronologis periwayatan hadits, mereka itu adalah Imam Malik, imam Syafi'I, imam al-Tsauri, Imam al-Auza'I dan lain-lain. Semua itu adalah figur pertama yang menguasai ilmu-ilmu yang berhubungan dengan hadits.
Adapun pada abad ketiga hijrah, kondisinya jauh berbeda dengan abad sebelumnya. Abad ini sampai dikenal dengan the golden age bagi perkembangan ilmu pengetahuan Islam, terutama yang berkaitan dengan Hadits. Perkembangan semacam itu akibat tumbuhnya semangat untuk mengadakan rihlah ilmiah dalam rangka mencari hadits, dan sebgai kelanjutannya menulis sebuah ilm al-rijal yang banyak beredar buku-buku kumpulan hadits seperti, al-Kutub al-Sittah, dan al-Masanid, yang sampai sekarang menjadi rujukan dalam bidang hadits. Semua buku tersebut merupakan sumbangan besar dalam perkembangan ilmu hadits dari ulama yang mempunyai wawasan keilmuan yang luas, seperti Imam Ahmad ibn Hanbal, Ali ibn al-Madini, al-Bukhari, Imam Muslim, Ishaq ibn Rahwaih dan lain-lain.
Satu hal lagi, bahwa dari perkembangan yang sangat pesat itu, telah menjadi tonggak sejarah penulisan dan penyusunan hadits. Dan pada abad ini pula merupakan batas yang membedakan antara muta'akhirin dan mutaqaddimin, karena ulama-ulama setelah itu tidak menghasilkan karya seperti abad sebelumnya. Mereka mungkin hanya berusaha untuk memperbaiki susunannya, mengadakan tahdzib dan seterusnya.




       B. Metode penulisan hadits
1.      Shahifah
Bentuk penulisan hadits dengan sahifah adalah jenis kodifikasi perserorangan dari masa awal yang penulisnya merupakan sahabat dan tabi’in. literature ini biasanya hanya ditulis oleh satu orang saja dalam bentuk lembaran-lembaran yang menyerupai buku. Contohnya adalah Sahifah Hammam bin Munabbih.
2.      Muwaththa’
Muwaththa adalah metode penulsian hadits yang berdasarkan kepada tema tertentu atau sesuai dengan pokok bahasan khususnya bab fiqh. Didalamnya terdapat hadits-hadits mauquf dan perkataan tabi’in. contoh kitab ini adalah kitab Muwaththa’ Malik.
3.      Mushannaf
Mushannaf adalah metode penulisan hadits yang berdasarkan pada tema tertentu khusunya bab fiqh. Kitab jenis ini juga banyak mencantumkan hadits mauquf dan maqthu bahkan sering kali kitab jenis ini dijadikan referensi utama untuk mengetahui pendapat ulama atau tabi’in. Contoh kita jenis ini adalah mushannaf Abdurrazaq.
4.      Jami
Jami adalah metode penulisan hadits yang mencangkup berbagai aspek khususnya dalam delapan tema besar yaitu aqaid, hukum fiqh, siyar, adab, tafsir, fitan, asyrat sa’ah dan manaqib. Contohnya adalah Jami al-Sahih Bukhary.
5.      Sunan
Metode kitab sunan ini adalah sebuah metode penulisan hadits dengan menyusun dengan tema fiqh seperti thaharah, shalat, zakat dan yang lainnya. Dalam kitab sunan ini meski tidak banyak, masih bisa ditemukan hadits mauquf. Contoh kitab jenis ini adalah Sunan Turmudzi.
6.      Mu’jam
Mu’jam adalah sebuah metode penulisan dengan menggunakan nama para sahabat atau periwayat lainnya atau domisili periwayat. Berbeda dengan musnad yang menitik beratkan kepada para sahabat saja. Contohnya adalah Mu’jam Thabrany.
7.      Musnad
Musnad adalah sebuah metode penulisan kitab hadits yang ditulis berdasarkan nama sahabat periwayat. Contohnya adalah Musnad Ahmad.



Daftar Pustaka
Al-Shidiqi, Muhammad Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Semarang: Pustaka Rizki Putra. 1998, Cet. 2
Rahman, Fathur, Ikhtisar Mustalahul Hadits, Bandung, PT. Al-Ma’arif. Cet. 20
Fathullah, Ahmad Lutfi, Metode Interaktif Hadits dan Ilmu Hadits, DVD Software.